Terlambat Mati
Rp 69.000
Penulis: Fidela Anandita, dkk
Penyunting: Yuli
Desain layout dan sampul: Tama
Cetakan Pertama, April 2026
VI + 158 hlm.; 14 × 20 cm
QRCBN: 62-8896-9840-752
Jilid: Softcover
Penyunting: Yuli
Desain layout dan sampul: Tama
Cetakan Pertama, April 2026
VI + 158 hlm.; 14 × 20 cm
QRCBN: 62-8896-9840-752
Jilid: Softcover
Blurb:
Terlambat Mati menghadirkan kumpulan cerpen yang merentangkan berbagai sisi kehidupan manusia yang rapuh, getir, dan kerap tak selesai pada waktunya. Setiap kisah bergerak dalam ruang yang berbeda, namun dipersatukan oleh kegelisahan yang sama tentang kehilangan, penyesalan, serta keputusan-keputusan yang datang terlambat. Tokoh-tokohnya berjalan di batas tipis antara harapan dan keputusasaan, seolah terus berhadapan dengan sesuatu yang belum sempat dituntaskan.
Melalui beragam sudut pandang, buku ini tidak hanya bercerita tentang kematian secara harfiah, tetapi juga tentang perasaan, kesempatan, dan hubungan yang perlahan “mati” tanpa disadari. Dengan gaya yang tenang namun menghantui, setiap cerpen mengajak pembaca menyelami makna waktu, konsekuensi, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang kerap dihindari hingga akhirnya semuanya terasa terlambat.
Terlambat Mati menghadirkan kumpulan cerpen yang merentangkan berbagai sisi kehidupan manusia yang rapuh, getir, dan kerap tak selesai pada waktunya. Setiap kisah bergerak dalam ruang yang berbeda, namun dipersatukan oleh kegelisahan yang sama tentang kehilangan, penyesalan, serta keputusan-keputusan yang datang terlambat. Tokoh-tokohnya berjalan di batas tipis antara harapan dan keputusasaan, seolah terus berhadapan dengan sesuatu yang belum sempat dituntaskan.
Melalui beragam sudut pandang, buku ini tidak hanya bercerita tentang kematian secara harfiah, tetapi juga tentang perasaan, kesempatan, dan hubungan yang perlahan “mati” tanpa disadari. Dengan gaya yang tenang namun menghantui, setiap cerpen mengajak pembaca menyelami makna waktu, konsekuensi, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang kerap dihindari hingga akhirnya semuanya terasa terlambat.